Riset Ungkap Bahaya Media Sosial untuk Anak Remaja Lewat Gadget
Penggunaan gadget berkembang pesat akhir-akhir sekian tahun, namun riset terbaru menunjukkan adanya dampak sosial media yang mengkhawatirkan bagi gene
12 Juni 2026 · 3 menit baca

Penggunaan gadget berkembang pesat akhir-akhir sekian tahun, namun riset terbaru menunjukkan adanya dampak sosial media yang mengkhawatirkan bagi generasi muda.
Murdoch Children’s Research Institute (MCRI) mengungkapkan bahwa remaja yang bermain gawai minimal dua jam sehari lebih rentan mengalami gejala depresi.
Studi jangka panjang selama satu dekade tersebut menegaskan adanya efek buruk sosmed terhadap penurunan kesejahteraan psikologis anak.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan pembatasan durasi menatap layar demi melindungi kesehatan mental remaja sejak dini.
Melalui temuan tersebut, orang tua dapat lebih waspada dalam mengawasi aktivitas digital agar anak terhindar dari bahaya media sosial untuk anak remaja.
Poin Utama:
- Penggunaan media sosial lebih dari dua jam sehari meningkatkan risiko depresi pada remaja.
- Riset dari MCRI memantau hampir 1.200 anak selama periode sepuluh tahun.
- Remaja perempuan berusia 12-13 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak negatif.
- Pembatasan waktu layar pada hp anak sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
- Regulasi pembatasan usia digital mendukung pencegahan masalah psikologis sejak dini.
Risiko Terbesar Mengintai Remaja Awal
Penelitian longitudinal bernama Child to Adult Transition Study (CATS) melacak perkembangan mental anak dari usia 9 hingga 19 tahun.
Para peneliti mengumpulkan data berkala mengenai tingkat kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri sebelum adanya aturan pembatasan usia.
Hasil yang terbit dalam Medical Journal of Australia menunjukkan bahwa efek negatif paling kuat menyerang anak perempuan berumur 12 hingga 13 tahun.
Dr. Nandi Vijayakumar selaku peneliti dari MCRI dan Deakin University menyatakan bahwa masa remaja awal merupakan jendela kritis yang memerlukan perhatian khusus.
“Masa remaja awal menjadi waktu ketika tingginya aktivitas digital memicu risiko gangguan mental setahun kemudian,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa efek kecil sekalipun dapat berdampak luas bagi kesehatan publik karena jumlah pengguna sangat besar.
Data internal MCRI bahkan mencatat hampir tiga perempat remaja di Australia mengalami gejala kecemasan atau depresi yang signifikan secara klinis.
Baca juga:
- Instagram Plus Meluncur Global, Fitur Premium Mulai Rp65 Ribu
- Industri Teknologi dan Penegak Hukum Bongkar Sindikat Online Scams
- Data Garmin Connect 2026 Ungkap Tren Lari dan Sepeda di Indonesia
Perlunya Batasan Penggunaan Hp Secara Bijak
Menanggapi fenomena tersebut, Profesor Susan Sawyer dari MCRI menekankan perlunya aturan yang seimbang terkait pemakaian teknologi digital.
Walaupun aplikasi populer di hp seperti Instagram, TikTok, Snapchat, dan YouTube menawarkan ruang kreatif, platform tersebut menyimpan risiko nyata.
Masalah perundungan siber serta paparan konten negatif menjadi alasan utama munculnya kekhawatiran global saat anak mengakses internet melalui hp.
“Hasil kami tidak menyebut media online sepenuhnya merusak, tetapi platform tersebut memiliki bahaya tertentu,” jelas Profesor Sawyer.
Oleh sebab itu, program literasi digital dan bimbingan orang tua sangat krusial.
Melalui Connected Minds Study, para ilmuwan kini terus memantau dampak pembatasan usia digital di Australia yang resmi berjalan sejak 10 Desember 2025 demi melindungi generasi masa depan.
Tags


