Qualcomm memberikan peringatan serius mengenai potensi penyusutan pasar ponsel pintar global tahun ini akibat kelangkaan semikonduktor memori.
CEO Qualcomm, Cristiano Amon, menyatakan bahwa ketersediaan memori akan menjadi faktor tunggal penentu ukuran pasar smartphone di masa depan.
Kelangkaan ini terjadi karena pemasok lebih memprioritaskan produksi memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) di pusat data.
Permintaan AI yang melonjak drastis membuat suplai DRAM dialihkan secara besar-besaran untuk High-Bandwidth Memory (HBM).
Akibatnya, pasokan DRAM untuk smartphone mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.
“Produsen ponsel pintar menyesuaikan rencana produksi mereka dengan sangat cepat untuk mengakomodasi pasokan memori yang tersedia,” ujar Amon.
Untuk mengatasi penurunan volume penjualan, Qualcomm memilih strategi untuk mendorong penjualan chipset kelas atas atau premium.
Chief Financial Officer Qualcomm, Akash Palkhiwala, menegaskan bahwa fokus pada produk bernilai tinggi akan meminimalkan penurunan pendapatan perusahaan.
Strategi ini juga didukung oleh tren pasar yang mulai beralih ke ponsel premium meskipun pasar secara umum sudah jenuh.
Meskipun ada kendala suplai, Qualcomm memastikan kerja sama dengan Samsung Electronics tetap kuat.
Prosesor Snapdragon akan mengotaki lebih dari 75% perangkat pada seri Galaxy S26 mendatang. Sementara itu, 25% sisanya akan menggunakan Exynos 2600 milik Samsung.
Amon juga menyebut pabrikan China, Changxin Memory Technologies (CXMT), sebagai salah satu alternatif supplier memori yang sudah mendapatkan sertifikasi.
Qualcomm memperkirakan penjualan unit bisnis semikonduktornya (QCT) mencapai $6 miliar atau sekitar Rp94,5 triliun untuk tiga bulan pertama tahun ini.
Namun, mereka juga memprediksi adanya penurunan pada kuartal berikutnya karena faktor musiman.
Meskipun industri sedang menghadapi tantangan berat, Qualcomm tetap optimis terhadap peluang baru di pasar robotika dan AI fisik.

