Indonesia Tempati Posisi Kedua dalam Penggunaan AI Harian
Penggunaan AI multimodal di Indonesia mencapai 22 persen. Ericsson mengungkap kebutuhan jaringan masa depan yang responsif, stabil, dan aman.
28 Oktober 2026 · 2 menit baca

Indonesia menempati posisi kedua dari 27 pasar yang diteliti dalam penggunaan AI multimodal harian, dengan angka mencapai 22 persen.
Temuan terbaru Ericsson ConsumerLab ini menunjukkan meningkatnya interaksi masyarakat dengan kecerdasan buatan (AI) melalui teks, gambar, video, suara, dan dokumen.
Seiring tren tersebut, Ericsson menyoroti kebutuhan jaringan masa depan yang lebih responsif, andal, dan stabil untuk mendukung perkembangan AI.
Poin Penting:
- Penggunaan AI multimodal harian di Indonesia mencapai 22 persen, tertinggi kedua setelah Tiongkok.
- Adopsi agentic AI di Indonesia diproyeksikan meningkat dari 8 persen menjadi 44 persen pada 2030.
- Sebanyak 59 persen pengguna AI harian di Indonesia sangat khawatir terhadap asisten AI palsu yang bertindak atas nama mereka.
- Pada 2030, sebanyak 35 persen konsumen Indonesia diproyeksikan menggunakan AI melalui perangkat selain smartphone.
Penggunaan AI Meningkat, Jaringan Perlu Lebih Responsif
Laporan Ericsson ConsumerLab memperkirakan penggunaan AI multimodal secara intensif di Indonesia mencapai 45 persen pada 2030, dibandingkan 30 persen secara global.
Perubahan ini mendorong kebutuhan jaringan yang mampu menangani aktivitas AI melalui berbagai konten dan perangkat.
Menurut temuan tersebut, waktu respons AI menyumbang sekitar 20 persen terhadap kepuasan jaringan kelompok AI super users, dibandingkan 8 persen pada pengguna smartphone secara umum.
Artinya, kecepatan respons menjadi faktor penting bagi konsumen yang menggunakan AI secara lebih intensif.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menegaskan bahwa jaringan perlu menghadirkan pengalaman yang cepat, responsif, dan andal, sekaligus menjaga keamanan serta kepercayaan dalam interaksi digital.
Baca JugaESET Perkuat Keamanan Bisnis dengan Platform PROTECT Berbasis AIAgentic AI dan Tantangan Konektivitas Masa Depan
Selain AI multimodal, Ericsson memproyeksikan adopsi agentic AI di Indonesia meningkat dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030.
Teknologi ini memungkinkan AI menjalankan tugas atas nama pengguna, seperti membandingkan produk, mengatur jadwal, dan mengelola pembelian berulang.
Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan konektivitas dengan latensi rendah, kapasitas uplink memadai, serta performa jaringan yang konsisten.
Ericsson juga memperkirakan 35 persen konsumen Indonesia akan menggunakan AI melalui perangkat selain smartphone, termasuk smart glasses, pada 2030.
Karena itu, kesiapan jaringan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung perkembangan layanan AI. Keamanan juga perlu mendapat perhatian, mengingat 59 persen pengguna AI harian di Indonesia sangat khawatir terhadap asisten AI palsu.
Dalam laporan yang sama, penyedia layanan komunikasi Indonesia menempati posisi kedua dalam tingkat kepercayaan untuk memverifikasi identitas asisten AI.
Laporan An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs berdasarkan survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna smartphone berusia 15–69 tahun di 27 pasar.



